Opini

AC Milan, Kenapa Giampaolo?

Spread the love
Jika Anda fans AC Milan, barangkali pertanyaan yang sedang menggelayut di benak Anda saat ini adalah kenapa manajemen Milan memilih Marco Giampaolo sebagai pelatih pengganti Gennaro Gattuso. Apa hebatnya pelatih Sampdoria ini? Setidaknya rekam jejaknya belum bisa dibanggakan dengan pelatih-pelatih tim top Serie A lainnya.

Nama Giampaolo tak cukup membuat fans AC Milan menepuk dada jika dibandingkan dengan pelatih-pelatih anyar tim elite Serie A pesaing AC Milan macam Juventus dan Inter Milan. Bagaimana tidak, Juventus akan kedatangan Maurizio Sarri, sedangkan Inter telah resmi memiliki Antonio Conte.

Namun apakah benar Giampaolo pantas diremehkan seperti itu? simak laporan 3dente berikut ini.

Jika ukuran pelatih top adalah jumlah gelarnya, maka memang Giampaolo belum memiliki koleksi gelar apapun, namun bukan itu alasan manajemen Milan menunjuknya sebagai arsitek Il Diavollo Rosso.

Sepak bola atraktif dan efektif

Saat membesut Empoli lah brand sepak bola Giampaolo mulai dikenal yakni saat musim 2015-2016. Pelatih kelahiran Swiss itu membawa Tim yang bermarkas di kota Tuscany itu ke posisi 10 besar. Selama 3 tahun berikutnya, ia menukangi Sampdoria dan seperti halnya di Empoli, Sampdoria ia bawa finis 3 kali di posisi 10 besar.

Meski finis di posisi yang kurang menggembirakan, namun permainan Sampdoria banyak mendapat perhatian dan pujian. Giampaolo mampu memeragakan sepak bola atraktif dan efektif. Jadi bukan posisi klasemen yang menjadi pertimbangan manajemen Milan, namun cara bermain. Empoli dan sampdoria memainkan sepak bola atraktif, dan itulah yang ingin coba AC Milan miliki.

Ketidakmampuan Giampaolo membawa Sampdoria ke kancah Eropa sebenarnya sangat mengkhawatirkan fans AC Milan. Namun keraguan itu bisa sedikit sirna jika seandainya Giampaolo diberi materi pemain yang lebih baik maka hasilnya tentu akan lebih baik pula. Perlu kita ingat bahwa saat Sarri melatih Empoli, Empoli berada di papan bawah dan nyaris terdegradasi di musim 2014-2015. Musim berikutnya Sarri menukangi Napoli-dengan materi pemain yang lebih baik- dan suskses membawanya menjadi runner-up.

Formasi 4-3-3

Namun jika pertimbangannya adalah sepak bola atraktif bukankah pelatih Atalanta, Gian Piero Gasperini lebih mentereng karena mampu membawa Atalanta lolos ke Liga Champion sekaligus mempertontonkan sepak bola atraktif

Barangkali jawabannya adalah patron yang dipakai kedua pelatihlah yang membedakan. Gasperini memakai formasi dasar 3-4-3 sedangkan Giampaolo memakai 4-3-3. Perbedaan formasi bek ini lah yang menjadi pertimbangan teknis AC Milan.

Formasi Giampaolo cocok dengan profil pemain yang sudah dimiliki AC Milan. AC Milan sepertinya lebih cocok dengan formasi 4 bek dibvanding 3 bek. Maka dari itu mereka memilih Giampaolo.

Selain di lini belakang, di lini depan, Milan juga sudah memiliki stok pemain yang mumpuni untuk dimainkan di bawah arahan Giampaolo. Milan bisa memainkan Piatek dan Cutrone bersamaan ditambah mereka sudah memiliki Lucas Paqueta yang bisa dimainkan di belakang keduanya. Perlu diketahui bahwa musim lalu talenta Brazil itu tidak bermain di posisi idealnya di bawah arahan Gattuso. Paqueta lebih ditempatkan ke belakang sejajar dengan 2 gelandang lainnya, Padahal potensi terbaik Paqueta adalah di belakang striker, seperti saat dia bermain di Flamengo sebelum pindah ke milan.

Selian itu, ciri khas permainan giampaolo adalah penerapan pressing ketat dan umpan satu-dua yang mirip-mirip dengan system permianan milik Sarri. akan tetapi memainkan pola permainan seperti ini tidaklah mudah, butuh waktu bagi pemain untuk beradaptasi. fans milan pun dituntut bersabar karena setidaknya butuh satu musim untuk melihat sepakbola Giampaolo terlihat nyata di lapangan.

Akhir era pelatih mantan pemain

Perekrutan Giampaolo ini juga menandai berakhirnya era Milan selalu mempekerjakan pelatih mantan pemain, baik mantan pemain Milan seperti Clarence Seedorf, Pippo Inzaghi, Cristian Brocchi dan Gattuso, ataupun mantan pemain non-Milan seperti Sinisa Mihajlovic dan Vincenzo Montella. Sudah saatnya Milan mengakhiri merekrut mantan pemain sebagai pelatih karena kesemuanya terbukti gagal membawa Milan ke papan atas (lolos ke Liga Champion).

Jadi, merekrut Giampaolo sudah merupakan langkah yang tepat untuk memenuhi ambisi Milan kembali ke papan atas sekaligus memainkan sepakbola atraktif.

3dente TV