pilihan Spesial

Giuseppe Signori Mafia Bola yang Menjadi Dongeng Terindah di Serie A

Spread the love
Jika kini anda menginjak usia kepala 3, mengaku menjadi pemerhati sepak bola, tidak mungkin jika anda tidak ingat dengan nama legendaris dari tanah Italia, Giuseppe Signori.

Oke, mari kita lanjutkan dongeng tentang si kaki kidal ini. Satu hal yang pertama kita harus tahu dan ingat, bahwa Signori adalah lulusan akademi Inter Milan. Kala itu, bakat Signori tidak digubris oleh Inter, Signori pun dibiarkan berkelana mencari jalannya sendiri untuk menjadi pesepakbola profesional.

Karirnya dimulai dari klub kecil, Leffe pada musim 1984-1985. Signori kala itu masih berusia 16 tahun, di Leffe dia dipercaya tampil 38 kali dan mencetak 8 gol. Piacenza dan Trento adalah destinasi selanjutnya bagi Signori muda.

Pertemuannya dengan pelatih gaek, Dzenek Zeman adalah titik balik dalam karirnya. Zeman melihat Signori memiliki bakat besar dan potensi menjadi seorang pencetak gol handal. Medio 1989-1992, Signori bekerjasama dengan Zeman di Foggia. Bersama Foggia, Signori bermain 100 kali dan mencetak 46 gol.

Kegemilanganya di Foggia membuat tim ibu kota kepincut. Siapa sangka, anak yang terbuang dari akademi Inter itu akan menjadi legenda di Lazio. Bersama Lazio, Signori mencapai puncak karirnya. Selama 6 tahun kebersamaan bersama Biancoceleste, Giueseppe Signori berhasil mencetak 126 gol dari 195 pertandingan. Sebuah catatan fantastis yang semakin jelas menobatkan dirinya menjadi salah satu striker terbaik di Italia sepanjang masa.

Signori berhasil menjadi Capocannonieri tiga kali berturut-turut bersama Lazio pada musim 92-93 (26 gol dalam 32 pertandingan), 93-94 (23 gol dalam 24 pertandingan) dan 95-96 (24 gol dalam 31 pertandingan). Signori adalah skuad Italia di Piala Dunia 1994 yang kala itu menjadi finalis. Hanya saja, pencapaian hebat secara Individu itu tidak berdampak pada pencapaianya secara tim, selama berkarir dirinya tidak mendapatkan gelar bergengsi.

Dia adalah seorang bomber yang mematikan. Dia mempunyai kaki kiri yang sangat kuat. Keistimewaanya adalah kemampuanya mengeksekusi bola mati. Kiper lawan akan dibuat tidak berdaya jika harus menghentikan tendangan bebas maupun tendangan pinalti Signori.

Sayang, Signori bukan ternasuk deretan pemain yang dianggap sebagai generasi emas Lazio. Kedatangan Sven-Göran Eriksson di tahun 1998 membuatnya harus hengkang dari Lazio. Meski begitu, pesona Signori tetaplah tidak redup. Signori masih bisa membuktikan dirinya pemain penuh kharisma bersama Sampdoria dan Bologna.

Bersama Bologna, Giueseppe Signori mencatatkan 80 gol dari 173 pertandingan. Sebuah tinta emas yang tidak bisa dilakukan oleh semua pemain.

Sadar tidak bisa lagi berkompetisi di level atas, Signori akhirnya memutuskan pensiun dari dunia sepak bola bersma klub Hungaria Sopron, sebelumnya Signori juga sempat mencicipi Liga Yunani bersma Iraklis. Selama karirnya, Giueseppe Signori bermain sebanyak 550 pertandingan dan mencetak 260 gol.

Namun, tinta emasnya di dunia sepak bola berbanding terbalik dengan goresan tinta dalam kehidupanya di luar lapangan. Signori menjadi seorang mafia bola, Signori kedapatan mengatur pertandingan. Giuseppe Signori terjerembap ke dunia gelap perjudian. pada tahun 2011 lalu, Signori ditangkap berserta 30 orang laiinya. Giuseppe Signori dihukum tidak boleh beraktfitas di dunia sepak bola selama 5 tahun.

Giuseppe Signori, sebuah dongeng indah dari sepak bola Italia.

3dente TV